Obat SSP {System Syaraf Pusat}
Rabu, 27 Maret 2013
Kamis, 21 Maret 2013
Obat sistem syaraf pusat
Macam-macam terapi farmakologi untuk gangguan neuorologi :
1. Epilepsi adalah gejalah bukan penyakit dan mengenai satu diantara 100 orang. terapi obat bergantung pada jenis epilepsi yang akan dibahas secara singkat. epilepsi dapat digolongkan sebagai simtomatik atau ideopatik.
epilepsi simtomatik. epilepsi simtomatik (sekunder) dapat disebabkan oleh faktor intrakranial seperti infeksi (misalnya) meningitis, ensefalitis, neurosifilis, abses, tuberkulosis.
trauma (mis. saat lahir atau cedera kepala; lesi caskular; degenarasi seebral' tumor; atau disebabkan faktor ekstraktranial seperti anoksia; racun (mis. alkohol, etil klorida, timah, kokai; gangguan metabolik (mis. uremia, alkalosis, gagal hati, hipoglikemia); penghentian pengobatan (mis. hipnotik, opiat).
epilepsi idiopatik. epilepsi dikatakan idiopatik (primer) bila tidak ada penyebabnya. perlu diingat bahwa otak yang hidup mempuanyai kapasitas menimbulkan serangan kejang jika stimulusnya cukup. derajat stimulus yang diperluka untuk menimbulkan serangan kejang pada seseorang adalah "ambang serangan" bagi orang itu.
Jenis Epilepsi idiopatik
Serangan Tonik-klonik
serangan ini didahului dengan masa ketegangan yang meningkat (beberapa menit sampai dua hari), hilang kesadaran , dan jatuh ke tanah dalam keadaan kaku,. kekakuan otot ini diikuti ekstremitas yang lemas. pasien akan sadar kembali dalam 5 sampai 15 menit, bingung selama sekitar 15 menit, dan dapat langsung tidur lelap. serangan kejang ini sering dikenal sebagai serangan grand mal atau mayor.
Serangan absens sederhana
serangan ini hanya terjadi pada anak., yang mengalami "absens" sekitar 10-15 detik saat mereka menatap lurus ke depan, kadang-kadang berkedip-kedip atau mendongak, kemudian kembali pada aktivitas normalnya. Serangan demikian dapat terjadi lima sampai 100kali dalam satu hari. Serangan ini dikenal sebagai serangan petit mal.
Serangan mioklonik
serangan berupa kedutan satu tungkai atau semua tungkai dan paling jelas selama jam pertama setelah bangun atau pada jam sebelum tidur. Seorang anak mungkin melempar-lempar barang saat sarapan pagi atau menjatuhkan barang. Dapat dijumpai pada pasien dengan grand mal atau bersama epilepsi simtomatik.
Obat untuk epilepsi
Hidantoin-fenitoin
Fenitoin (dilantin) dipakai untuk grand mal dan umumnya untuk epilepsi kecuali petic mal. reaksi merugikan dari obat ini adalah hipertrofi gusi. sindrom hidantoin fetal yang dapat berakibat palatoskhisis bila ibunya minum fenitoin selama kehamilan. Metabolisme fenitoin dapat dipengaruhi obat lain yang diminum bersamaan.
Barbiturat
Termasuk dalam fenobarbiton, metilfenobarbiton, primidon. Obat ini dipakai untuk mengobati serangan mayor segala jenis dan banyak dipakai untuk kejang demam pada anak.
Karbamazepin.
Karbamazerpin dapat di pakai untuk epilepsi grand mall atau di gabung dengan obat lain untuk pasien yang resisten terhadap pengobatan. Karbamazepin menunjukan hasil baik pada pengobatan tic doloureux dan merupakan obat pilihan untuk neuralgia trigeminus.
Interaksi obat .
Fenitoin dapat meningkatkan metabolisme karbamazepin dan karenanya menurunkan kadar darahnya; danazol dapat menghambat metabolisme karbamazepin.
Suksinamid.
Termasuk dalam agens ini adalah etosuksimid, metsuksimid, fensuksimid. Obat-obat ini dikembangkan untuk petit mal.
Benzodiazepin.
Termasuk agens ini adalah diazepam, nitrazepam, klonazepam.
Diazepam (valium) sangat baik untuk mengobati status epileptikus bila di beri secara IV, walaupun bukan antikonvulsan kuat bila diberi per oral. Nitrazepam (mogadon) lebih berguna untuk mengobati mioklonik yang timbul bersama grand mal.
klonazepam (rivotril) dipakai untuk macam-macam epilepzi pada orang dewasa dan anak , termasuk status epileptikus.
Na valproat.
Na valproat (Epilim) efektif mengobati epilepsi petit mal, grand mal. epilepsi campuran , dan serangan miokronik.
Obat untuk status epileptikus
Termasuk dalam agens ini adalah diazepam, klonazepam, paraldehid, tiopenton sodium, hemineurin.
Diazepam 10 mg IV diberi dalam 5 menit. Saat penyuntikan selesai, kejangnya berhenti. Efek diazepam hanya singkat, karena perlu diikuti pemberian fenitoin IV dengan kecepatan 50mg/ menit samapai dosis mencapai 500mg-1g untuk dewasa.
Klonazepam (1-4mg IV) kadang-kadang diberi menggantikan diazepam. Kerjanya lebih lama dari diazepam, namun reaksi merugikan seperti depresi pernapasan dan sedasi lebih berat dari diazepam.
Paraldehid kurang dipakai karena lebih toksik dan berbau. Jika cara-cara ini tidak berhasil, dicoba dengan piopentum sodium (pentothal). Pada kasus tertentu, klormertiasol (feminierin) telah digunakan dengan hasil baik.
2. Parkinson
Parkinson adalah penyakit neurologik yang bermanifestasi sebagai gangguan sikap, kekakuan, tremor dan hipokinesia (pengurangan gerak otot secara abnormal. Dikatakan terdapat pada 1 dari setiap 100 orang diatas 50 tahun. Gejala penyakit ini disebabkan perubahan dalam otak yaitu pengurangan reseptor dopamin dan sel-sel dalam substansi niagra. Sistim pengendali gerakan menjadi terganggu. Sistim dopaminergik defektif menjadi dominan. Terapi obat berupaya memulihkan sistem dopaminergik (dengan L-dopa, amantadin) atau menekan sistem kolinergik (dengan obat anti kolinergik, misalnya: benzeksol, benztropin).
Obat untuk parkinsonisme
-Levodopa (larodopa)
Levodopa (L-dopa) menjadi obat pilihan untuk pengobatan parkinson. Dopamin tidak efektif karena kurang diserap dari usus dan tidak dapat melalui sawar otak darah, sedangkan levodopa, yang merupakan prekursor dopamin, dapat. L-dopa umumnya lebih efektif untuk mengobati hipokineksia daripada mengatasi kekakuan dan tremor.
Interaksi obat leserpin (serpasil) kemungkinan menghabiskan dopamin otak; karenanya mengantagonis levodopa. Fenotiasin dapat memblok reseptor dopamin dan jangan diberi pada pasien yang minum eldopa. Inhibitor monoamin oksidase mengurangi degradasi dopamin dan noradrenalin, yang berakibat meningkatnya amin ini yang mengakibatkan hipertensi berbahaya. Benzodiasepin dan penitoin dapat menurunkan efek L-dopa. pildoksin mengembalikan efek terapeutik L-dopa sehingga sedikit L-dopa yang menembus otak.
L-dopa Dengan Inhibitor Dekarboksilase
Inhibitor dekarboksilase (carbidopa) yang digabungkan dengan L-dopa menguntungkan pengobatan parkinson. Carbidopa tidak melewati sawar otak darah dengan bergabung dengan L-dopa, diperlukan lebih sedikit L-dopa (20%), sehingga efek sampingnya berkurang (mual, muntah). Dipasaran dikenal sebagai sinemex atau madopar
Antikolinergik
Termasuk dalam agens ini adalah benzeksol, biperidin, benztropin, orfenadrin. Benzeksol (artane, anti-spas), biperidin (akineton), benztropin (cogentin), orfenadrin (norflex, disipal, opadrex).
agens ini menurunkan aktifitas kolinergik, sehingga mengurangi dominasi sistem kolinergik pada parkinson. Bila gejalanya ringan-kekakuan dan tremor dengan sedikit gangguan jalan atau akinesia-dapat digunakan antikolinergik.
Bromokriptin
Bromokriptin (parlodel) kini banyak dipakai. Agens ini langsung mempengaruhi reseptor dopaminergik dan digunakan untuk penyakit parkinson idiopatik atau pasca-ensefalitik. Penggunaan antara bromokriptin dan levedopa sangat efektif.
3. Migren
adalah bentuk sakit kepala mendadak disertai mual, muntah, dan fotofobia. Migren klasik sering didahului gangguan visual seperti melihat "bintang", disfagia, parestesia pada satu sisi badan, yang tidak terdapat pada migren pada umumnya.
Faktor pemicu macam-macam, dari emosional (stres, atau relaksasi setelah stres), fisik (kelelahan, cedera kepala), hormonal (premenstruasi), atau makanan (mis. keju atau anggur merah).
Obat migren jangka panjang dan pencegahan
Terapi obat profilaktik diindikasikan jika serangan lebih dari satu kali per bulan. Obat yang dipakai adalah yang mengubah kerja katekolamin, anti serotonin, dan lain-lain.
a. Obat yang mengubah kerja katekolamin
klonidin dalam dosis kecil (25 mcg) untuk terapi profilaksis jangka-panjang migren. juga dipakai untuk hipertensi, dengan nama dagang lain Catapres (150 mcg). Untuk pasien hipertensi yang minum Catapres, yang menderita migren, tidak ada gunanya memberi Dixarit tambahan.
b. Obat Antiserotonin
Termasuk dalam agens ini adalah antihistamin antiserotonin, siproheptadin, metdilazin, pizotifen malat. Siproheptadin (Periactin) diberi dalam dosis 4-8 mg tiga kali sehari. Metdilazin (Dilosyn) diberi 8 mg dua kali sehari. Pizotifen malat (Sandomigran) secara struktur mirip siproheptadin, dan diberi dalam dosis 0,5 mg satu sampai tiga kali sehari.
OBAT MIGREN SERANGAN AKUT
1. Analgesik
Aspirin. Aspirin diberi dalam dosis 900 mg (tiga tablet).
Parasetamol. Parasetamol diberi dalam dosis 1 g (dua tablet) berupa tablet efervesen. Alagesik lemah lain dapat diberi bersama aspirin dan parasetamol, seperti kodein dan dekstropropoksifen.
2. Antiemetik
Termasuk dalam agens ini adalah metoklopramid, tietilperazin, proklorperazin, meklozin hidroklorida. Metoklopramid (Maxolon) adalah antiemetik pilihan. Dosis 10 mg diberi diberi 10 menit sebelum dosis aspirin atau parasetamol pada serangan migren. Antiemetik lain adalah tietilperazin (Torecan), proklorperazin (Stemetil), dan meklozin hidroklorida (Ancolan).
3. Tranquilizer
Kebanyakan pasien berespons baik terhadap terapi serangan akut jika mereka dapat tidur, misalnya dibantu dengan pemberian diazepam 5-10 mg.
4. Ergotamin Tartrat
Ergotamin adalah vasokonstriktor kuat dalam pengobatan migren, yang harus diberi pada munculnya tanda pertama, dengan dosis awal 1-2 mg per oral atau rektal. Kemudia diberi 1 mg setiap 1/2 sampai 1 jam. Dosis harian total tidak boleh melebihi 6 mg; dosis mingguan total tidak boleh melebihi 10 mg.
1. Epilepsi adalah gejalah bukan penyakit dan mengenai satu diantara 100 orang. terapi obat bergantung pada jenis epilepsi yang akan dibahas secara singkat. epilepsi dapat digolongkan sebagai simtomatik atau ideopatik.
epilepsi simtomatik. epilepsi simtomatik (sekunder) dapat disebabkan oleh faktor intrakranial seperti infeksi (misalnya) meningitis, ensefalitis, neurosifilis, abses, tuberkulosis.
trauma (mis. saat lahir atau cedera kepala; lesi caskular; degenarasi seebral' tumor; atau disebabkan faktor ekstraktranial seperti anoksia; racun (mis. alkohol, etil klorida, timah, kokai; gangguan metabolik (mis. uremia, alkalosis, gagal hati, hipoglikemia); penghentian pengobatan (mis. hipnotik, opiat).
epilepsi idiopatik. epilepsi dikatakan idiopatik (primer) bila tidak ada penyebabnya. perlu diingat bahwa otak yang hidup mempuanyai kapasitas menimbulkan serangan kejang jika stimulusnya cukup. derajat stimulus yang diperluka untuk menimbulkan serangan kejang pada seseorang adalah "ambang serangan" bagi orang itu.
Jenis Epilepsi idiopatik
Serangan Tonik-klonik
serangan ini didahului dengan masa ketegangan yang meningkat (beberapa menit sampai dua hari), hilang kesadaran , dan jatuh ke tanah dalam keadaan kaku,. kekakuan otot ini diikuti ekstremitas yang lemas. pasien akan sadar kembali dalam 5 sampai 15 menit, bingung selama sekitar 15 menit, dan dapat langsung tidur lelap. serangan kejang ini sering dikenal sebagai serangan grand mal atau mayor.
Serangan absens sederhana
serangan ini hanya terjadi pada anak., yang mengalami "absens" sekitar 10-15 detik saat mereka menatap lurus ke depan, kadang-kadang berkedip-kedip atau mendongak, kemudian kembali pada aktivitas normalnya. Serangan demikian dapat terjadi lima sampai 100kali dalam satu hari. Serangan ini dikenal sebagai serangan petit mal.
Serangan mioklonik
serangan berupa kedutan satu tungkai atau semua tungkai dan paling jelas selama jam pertama setelah bangun atau pada jam sebelum tidur. Seorang anak mungkin melempar-lempar barang saat sarapan pagi atau menjatuhkan barang. Dapat dijumpai pada pasien dengan grand mal atau bersama epilepsi simtomatik.
Obat untuk epilepsi
Hidantoin-fenitoin
Fenitoin (dilantin) dipakai untuk grand mal dan umumnya untuk epilepsi kecuali petic mal. reaksi merugikan dari obat ini adalah hipertrofi gusi. sindrom hidantoin fetal yang dapat berakibat palatoskhisis bila ibunya minum fenitoin selama kehamilan. Metabolisme fenitoin dapat dipengaruhi obat lain yang diminum bersamaan.
Barbiturat
Termasuk dalam fenobarbiton, metilfenobarbiton, primidon. Obat ini dipakai untuk mengobati serangan mayor segala jenis dan banyak dipakai untuk kejang demam pada anak.
Karbamazepin.
Karbamazerpin dapat di pakai untuk epilepsi grand mall atau di gabung dengan obat lain untuk pasien yang resisten terhadap pengobatan. Karbamazepin menunjukan hasil baik pada pengobatan tic doloureux dan merupakan obat pilihan untuk neuralgia trigeminus.
Interaksi obat .
Fenitoin dapat meningkatkan metabolisme karbamazepin dan karenanya menurunkan kadar darahnya; danazol dapat menghambat metabolisme karbamazepin.
Suksinamid.
Termasuk dalam agens ini adalah etosuksimid, metsuksimid, fensuksimid. Obat-obat ini dikembangkan untuk petit mal.
Benzodiazepin.
Termasuk agens ini adalah diazepam, nitrazepam, klonazepam.
Diazepam (valium) sangat baik untuk mengobati status epileptikus bila di beri secara IV, walaupun bukan antikonvulsan kuat bila diberi per oral. Nitrazepam (mogadon) lebih berguna untuk mengobati mioklonik yang timbul bersama grand mal.
klonazepam (rivotril) dipakai untuk macam-macam epilepzi pada orang dewasa dan anak , termasuk status epileptikus.
Na valproat.
Na valproat (Epilim) efektif mengobati epilepsi petit mal, grand mal. epilepsi campuran , dan serangan miokronik.
Obat untuk status epileptikus
Termasuk dalam agens ini adalah diazepam, klonazepam, paraldehid, tiopenton sodium, hemineurin.
Diazepam 10 mg IV diberi dalam 5 menit. Saat penyuntikan selesai, kejangnya berhenti. Efek diazepam hanya singkat, karena perlu diikuti pemberian fenitoin IV dengan kecepatan 50mg/ menit samapai dosis mencapai 500mg-1g untuk dewasa.
Klonazepam (1-4mg IV) kadang-kadang diberi menggantikan diazepam. Kerjanya lebih lama dari diazepam, namun reaksi merugikan seperti depresi pernapasan dan sedasi lebih berat dari diazepam.
Paraldehid kurang dipakai karena lebih toksik dan berbau. Jika cara-cara ini tidak berhasil, dicoba dengan piopentum sodium (pentothal). Pada kasus tertentu, klormertiasol (feminierin) telah digunakan dengan hasil baik.
2. Parkinson
Parkinson adalah penyakit neurologik yang bermanifestasi sebagai gangguan sikap, kekakuan, tremor dan hipokinesia (pengurangan gerak otot secara abnormal. Dikatakan terdapat pada 1 dari setiap 100 orang diatas 50 tahun. Gejala penyakit ini disebabkan perubahan dalam otak yaitu pengurangan reseptor dopamin dan sel-sel dalam substansi niagra. Sistim pengendali gerakan menjadi terganggu. Sistim dopaminergik defektif menjadi dominan. Terapi obat berupaya memulihkan sistem dopaminergik (dengan L-dopa, amantadin) atau menekan sistem kolinergik (dengan obat anti kolinergik, misalnya: benzeksol, benztropin).
Obat untuk parkinsonisme
-Levodopa (larodopa)
Levodopa (L-dopa) menjadi obat pilihan untuk pengobatan parkinson. Dopamin tidak efektif karena kurang diserap dari usus dan tidak dapat melalui sawar otak darah, sedangkan levodopa, yang merupakan prekursor dopamin, dapat. L-dopa umumnya lebih efektif untuk mengobati hipokineksia daripada mengatasi kekakuan dan tremor.
Interaksi obat leserpin (serpasil) kemungkinan menghabiskan dopamin otak; karenanya mengantagonis levodopa. Fenotiasin dapat memblok reseptor dopamin dan jangan diberi pada pasien yang minum eldopa. Inhibitor monoamin oksidase mengurangi degradasi dopamin dan noradrenalin, yang berakibat meningkatnya amin ini yang mengakibatkan hipertensi berbahaya. Benzodiasepin dan penitoin dapat menurunkan efek L-dopa. pildoksin mengembalikan efek terapeutik L-dopa sehingga sedikit L-dopa yang menembus otak.
L-dopa Dengan Inhibitor Dekarboksilase
Inhibitor dekarboksilase (carbidopa) yang digabungkan dengan L-dopa menguntungkan pengobatan parkinson. Carbidopa tidak melewati sawar otak darah dengan bergabung dengan L-dopa, diperlukan lebih sedikit L-dopa (20%), sehingga efek sampingnya berkurang (mual, muntah). Dipasaran dikenal sebagai sinemex atau madopar
Antikolinergik
Termasuk dalam agens ini adalah benzeksol, biperidin, benztropin, orfenadrin. Benzeksol (artane, anti-spas), biperidin (akineton), benztropin (cogentin), orfenadrin (norflex, disipal, opadrex).
agens ini menurunkan aktifitas kolinergik, sehingga mengurangi dominasi sistem kolinergik pada parkinson. Bila gejalanya ringan-kekakuan dan tremor dengan sedikit gangguan jalan atau akinesia-dapat digunakan antikolinergik.
Bromokriptin
Bromokriptin (parlodel) kini banyak dipakai. Agens ini langsung mempengaruhi reseptor dopaminergik dan digunakan untuk penyakit parkinson idiopatik atau pasca-ensefalitik. Penggunaan antara bromokriptin dan levedopa sangat efektif.
3. Migren
adalah bentuk sakit kepala mendadak disertai mual, muntah, dan fotofobia. Migren klasik sering didahului gangguan visual seperti melihat "bintang", disfagia, parestesia pada satu sisi badan, yang tidak terdapat pada migren pada umumnya.
Faktor pemicu macam-macam, dari emosional (stres, atau relaksasi setelah stres), fisik (kelelahan, cedera kepala), hormonal (premenstruasi), atau makanan (mis. keju atau anggur merah).
Obat migren jangka panjang dan pencegahan
Terapi obat profilaktik diindikasikan jika serangan lebih dari satu kali per bulan. Obat yang dipakai adalah yang mengubah kerja katekolamin, anti serotonin, dan lain-lain.
a. Obat yang mengubah kerja katekolamin
klonidin dalam dosis kecil (25 mcg) untuk terapi profilaksis jangka-panjang migren. juga dipakai untuk hipertensi, dengan nama dagang lain Catapres (150 mcg). Untuk pasien hipertensi yang minum Catapres, yang menderita migren, tidak ada gunanya memberi Dixarit tambahan.
b. Obat Antiserotonin
Termasuk dalam agens ini adalah antihistamin antiserotonin, siproheptadin, metdilazin, pizotifen malat. Siproheptadin (Periactin) diberi dalam dosis 4-8 mg tiga kali sehari. Metdilazin (Dilosyn) diberi 8 mg dua kali sehari. Pizotifen malat (Sandomigran) secara struktur mirip siproheptadin, dan diberi dalam dosis 0,5 mg satu sampai tiga kali sehari.
OBAT MIGREN SERANGAN AKUT
1. Analgesik
Aspirin. Aspirin diberi dalam dosis 900 mg (tiga tablet).
Parasetamol. Parasetamol diberi dalam dosis 1 g (dua tablet) berupa tablet efervesen. Alagesik lemah lain dapat diberi bersama aspirin dan parasetamol, seperti kodein dan dekstropropoksifen.
2. Antiemetik
Termasuk dalam agens ini adalah metoklopramid, tietilperazin, proklorperazin, meklozin hidroklorida. Metoklopramid (Maxolon) adalah antiemetik pilihan. Dosis 10 mg diberi diberi 10 menit sebelum dosis aspirin atau parasetamol pada serangan migren. Antiemetik lain adalah tietilperazin (Torecan), proklorperazin (Stemetil), dan meklozin hidroklorida (Ancolan).
3. Tranquilizer
Kebanyakan pasien berespons baik terhadap terapi serangan akut jika mereka dapat tidur, misalnya dibantu dengan pemberian diazepam 5-10 mg.
4. Ergotamin Tartrat
Ergotamin adalah vasokonstriktor kuat dalam pengobatan migren, yang harus diberi pada munculnya tanda pertama, dengan dosis awal 1-2 mg per oral atau rektal. Kemudia diberi 1 mg setiap 1/2 sampai 1 jam. Dosis harian total tidak boleh melebihi 6 mg; dosis mingguan total tidak boleh melebihi 10 mg.
Langganan:
Komentar (Atom)